Anjing lu
Oleh: MOHAMMAD SUWANDI
Mahasiswa ilmu hadist
16/10/22
“Anjing Lu..!”
Kata anjing yang sering kita dengar dari teman kita atau bahkan keluar dari mulut kita sendiri bahkan anak kecil juga layaknya sudah menjadi konsumsi disetiap hari kita. Apa karena dagingnya haram ? ,air liurnya najis atau bagaimana ? ini penghinaan pada anjing sebenarnya dan kenapa sih kita benci anjing ?
Di Madura, kata Anjing sangat popular digunakan sebagai ekspresi kekecewaan dan kemarahan, soalnya budaya Madura sangat memiliki kedekatan erat dengan islam, Anjing dalam budaya islam dinilai sebagai hewan kotor yang najis serta serta dapat merepresentasikan kekecewaan. Walaupun secara lenguistik, makian anjing adalah perangkat yang alamiah dan wajar. Tidak banyak yang mengetahui kenapa narus nama binatang, terutama anjing yang dipilih penutur sebagai ekspresi kebencian atau kekesalan dan memang sering Anjing” itu digunakan sebagai bahasa umpatan. kalau kita tidak suka sama orang biasanya kita nyebut kata anjing
Adapun rujukan kata Anjing” dipilih karena dinilai sesuai, serta dapat menggambarkan kekesalan. Sehinggapara penutur para bahasa melakukan perbandingan dengan refrensi binatang karena mitra yang dimaki sepatutnya layak direndahkan. Fokusnya mengekpresikan kemarahan. Tidak lucu bila ekspresi marah diingkapkan dengan kata- kata kebahagian atau halus karena nantinya kepuasan batin penutur tidak tercapai secara bahasa.
Hipotesis kedua perihal asal muasal kata Anjing sebagai ekpresi makian mengemuka karena dinilai mencerminkan penjajah dimasa kolonial belanda. Kala itu para noni belanda gemar merawat anjing sehingga masyarakat pribumi kerap menggunakan nama hewan tersebut sebagai bentuk kebencian terhadap penjajah. Namun seiring bergulirnya zaman, kata Anjing mengalami modifikasi makna yang interpretasi. Bila dulu hanya mamiliki dua makna yang merujuk pada binatang dan makian namun kini beranjak menjadi simbol penanda kedekatan dan keakraban sosial.
Itulah uniknya bahasa karna berjalan selalu dinamis. Kadang yang dulu baku sekaran jadi tidak baku dulu kasar sekarang tidak kasar lagi. Itu semua tergantung penuturnya karna makna tidak melekat kata namun pemikiran penutur, artinya makna dapat dirubah.
Memang secara fikih, Anjing” itu diperdebatkan ,ada yang mengataka anjing itu najis, ada yang mengatakan tidak najis. Misalnya jika ada yang bilang karna daginnya haram ? Daging kita juga haram! kalau soal najis ? kencing kita juga najis! Tapi kenapa kita benci diri kita ? Atau karna liurnya najis ? liurnya anjing itu najis karena memang sudah kodratnya najis, Allah SWT yang memberinya sebagai rahmat, tapi masalahnya ada orang yang liurnya secara lahir bukan kodratnya najis, tapi secara makna dia bisa jadi najis. Sabda nabi najisnya liasan itu dengan berkata buruk jadi ini lebih parah dari pada anjing karena itu Allah dalam al quran kadang menyindir manusia lebih buruk dari binatang. jadi liur anjing itu najis karena memang sudah kodratnya najis, tapi kodrat liurnya manusia tidak najis bisa jadi najis dengan berkata buruk dan secara makna lebih bahaya. Jadi kesimpulannya siapa yang sebenarnya anjing? Dan ingat anjing tidak seburuk itu!
KelaZz
BalasHapus